Kerjakan yang Kita Tahu, Kita Sangat Bisa Mengerjakannya | Ilmu Islam

Jumat, 29 November 2013

Kerjakan yang Kita Tahu, Kita Sangat Bisa Mengerjakannya

Suatu hari, Ibrahim bin Adham melihat sebuah batu yang di atasnya tertulis, “Balikkan diriku, dan bacalah!” Ibrahim lalu membalik sisi lain batu itu. Di balik batu itu tertulis, “Kamu tidak mengerjakan apa yang kamu tahu, padahal kamu tahu kamu sangat mampu mengerjakannya. Kenapa kamu masih saja mencari apa yang tidak kamu ketahui, sebelum mengerjakan yang sudah kamu ketahui?”

Saya punya teman yang katanya ingin belajar menjadi insan yang sejati. Saya bilang “Gampang, tinggal kerjakan saja cara-caranya.” “Boleh dong dicoba”, katanya. Dicoba? Memangnya sambel, dicoba-coba! Ngomongin tentang coba-coba, maukah anda meminjami teman anda sepuluh ribu rupiah yang sebelum anda beri, dia bilang, “Akan aku coba membayarnya.” Atau, anda mengajak seseorang untuk lari pagi bersama di hari Minggu, lalu dia mengiyakannya. Tetapi, ketika hari Minggu tiba dan anda memintanya untuk menepati janjinya, dia menjawab, “Akan aku coba.” Anda pasti kesal kan, dengan jawaban model gini?

Masih ingin mencoba atau mengerjakan? Bukan dicoba lagi, tapi dikerjakan! Beda, kan, yang namanya mencoba dengan mengerjakan? Menjadi insan yang taat kepada Allah itu pada hakikatnya harus dikerjakan semua manusia. Ya, semua manusia! Apakah anda tahu, semua yang merasa dirinya manusia, sudah dibekali oleh Allah yang namanya hati. Tugas kita dari Allah adalah menyucikan hati itu, membuatnya terang-benderang, membebaskannya dari nafsu. Salah satu contohnya dengan cara mengerjakan apa yang bisa kita kerjakan.

Pada dasarnya, kita memang hanya mau mengerjakan sesuatu yang bisa kita lakukan—yang tidak bisa, ngapain dipaksa-paksain! Tapi, ada hal-hal dalam hidup ini yang memang harus dikerjakan, terpaksa atau sukarela, bisa atau tidak bisa. Misalnya kalau anda sangat lapar, apa yang anda lakukan? Mencoba makan atau makan? Pasti makan, kan? Anda tidak bisa mengatasi kelaparan hanya dengan mencoba makan. Kalau anda cuma mencoba makan, kenyangnya pun mungkin kenyang-kenyangan. Malah mungkin anda bisa mati kelaparan. Betul, kan?

Memangnya kalau hal-hal yang harus dikerjakan itu tidak dikerjakan, kenapa? Anda bisa mati, hancur, atau, gagal. Itu konsekuensinya. Seorang jenderal Muslim bernama Tariq bin Ziyad melakukan penaklukkan ke Spanyol. Dia membawa dua belas ribu pasukan sementara lawannya, King Roderick mempunyai seratus ribu pasukan Kristen. Setelah berhasi mendarat di Spanyol, dia melakukan perbuatan yang sangat tidak biasa dilakukan oleh jenderal mana pun. Dia membakar semua kapal. Kenapa dibakar, sayang banget, kan? Perhatikan alasan sang Jenderal Tariq bin Ziyad. Bagi Tariq bin Ziyad, hidup hanya punya dua pilihan: menaklukkan daratan atau mati hancur. Sama dengan slogan bangsa kita di tahun-tahun perjuangan melawan, “Merdeka atau Mati!” Kita pun begitu, kalau tidak merdeka dari keinginan nafsu, ya kita mati harapan.

Kita—pada banyak hal—dihadapkan hanya pada dua pilihan: kerjakan atau hancur. Belajar atau tidak lulus? Bangun malam atau jadi pemalas? Damai dengan musuh atau terus-menerus merasa terancam? Melamar si dia sekarang atau tidak pernah memiliki dia seumur hidup? Jadi orang baik dan dicintai Allah atau jadi pembangkang? Kita banyak dihadapkan pada hal-hal yang hanya punya satu jawaban: kerjakan. Maka kalau tidak, kita hancur. Tidak ada yang namanya coba-coba. Ingin jadi seseorang yang baik dan sejati ada banyak caranya. Asal tidak coba-coba, insya Allah hasilnya akan terasa.

Pertama, sadari kecendrungan nafsu kita. Teruslah kenali nafsu itu, karakternya, keinginannya, sifat-sifatnya. Sekali lagi, jangan jauhi dan jangan sekali-kali melupakan, tapi kenali nafsu anda, kenali setiap keinginan anda. Mustahil anda bisa mengendalikan nafsu anda kalau anda belum mengenalinya. Setelah itu, baru dekati dan kendalikan. Kalau sudah kenal dan sudah bisa anda kendalikan, akrabi dia. Jadikan dia tunggangan anda dan bukan malah anda yang ditungganginya. Atur dia sedemikian sehingga dia menjadi kendaraan yang membantu kita melangkah.

Kedua, bangkitkan motivasi kita: ingatkan diri kita akan masa depan, tuliskan besar-besar langkah-langkah yang harus anda tempuh untuk menjadi seseorang yang taat kepada Allah, baik di benak anda maupun di catatan harian anda. Tidak usah neko-neko, mulailah dari hal baik terkecil yang bisa anda lakukan.

Ketiga, introspeksi diri kita. Insafi kesalahan anda yang sangat banyak itu. Ketidakharmonisan hubungan anda dengan orangtua, rekan-rekan, guru, atau bahkan dengan binatang dan tumbuhan kesayangan anda, mungkin berawal dari kesalahan anda. Berhentilah mencaci-maki dan mencari kambing hitam. Andalah yang salah, dan beranilah mengakui kesalahan.

Keempat, bersyukur. Jangan mengeluh dengan keadaan. Kalau kata para ajengan: jangan kufur nikmat. Baik dan buruk adalah cara Allah menyucikan anda. Air yang sejuk membersihkan kotoran, api yang sangat panas bisa membuat pedang. Semua itu ada manfaatnya. Tidak ada yang lebih mulia dan yang lebih hina dari keduanya. Mawar yang harum buat hiasan, duri yang tajam pelindungnya. Siang yang terang buat bekerja, malam yang gelap saatnya istirahat. Hidup menjadi indah jika kita mensyukuri nikmat yang telah diberikan Allah kepada kita.

Kelima, Renungkan kehadiran Allah selalu dalam dada anda, terangi hati anda dengan dzikrullah, dan hiduplah bersama-Nya.

Sekarang, datangi Dia dengan tulus dan penuh cinta karena hanya cinta yang bisa mengubah besi menjadi pedang dan mengubah tembaga menjadi permata. Anda akan berubah menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa dengannya. Caranya? Cara paling sederhana adalah dengan mengorbankan diri anda di jalan-Nya sebagaimana laron mengorbankan dirinya ke dalam api lilin. Karena hanya dengan pengorbananlah, tulus cinta anda kepada-Nya terbukti. Cahaya anda akan membawa anda kepada-Nya.

----------------------------------------------------------------------------------------------------------
Dikutip dari buku Nyari Identitas Diri Karangan M. Ikhsan Hal. 86-92 dengan perubahan

YouTube Channel Lampu Islam: youtube.com/ArceusZeldfer
Facebook Page: facebook.com/anakmuslimtaat

Kerjakan yang Kita Tahu, Kita Sangat Bisa Mengerjakannya Rating: 4.5 Diposkan Oleh: Unknown

 

Top