Bahaya Pembunuhan Jiwa Seorang Muslim Tanpa Hak | Ilmu Islam

Selasa, 05 November 2013

Bahaya Pembunuhan Jiwa Seorang Muslim Tanpa Hak

Membunuh Jiwa Seorang Muslim Tanpa Hak Termasuk Diantara Dosa Besar yang Paling Besar
Allah ta’ala berfirman :
وَمَنْ يَقْتُلْ مُؤْمِناً مُتَعَمِّداً فَجَزَاؤُهُ جَهَنَّمُ خَالِداً فِيهَا وَغَضِبَ اللَّهُ عَلَيْهِ وَلَعَنَهُ وَأَعَدَّ لَهُ عَذَاباً عَظِيماً
Dan barangsiapa yang membunuh seorang mukmin dengan sengaja, maka balasannya ialah Jahanam, kekal ia di dalamnya dan Allah murka kepadanya, dan melaknatnya, serta menyediakan azab yang besar baginya” [QS. An-Nisaa’ : 93].
Tidaklah Allah ta’ala memberikan hukuman terhadap satu perbuatan dengan kekekalan di Jahannam, murka kepadanya, melaknatnya, dan adzab yang besar; melainkan perbuatan tersebut sangat besar dosanya di sisi Allah – hingga sebagian salaf berpendapat pelaku pembunuhan seorang muslim secara sengaja tidak diterima taubatnya.
حَدَّثَنَا الْحَسَنُ بْنُ مُحَمَّدٍ الزَّعْفَرَانِيُّ، حَدَّثَنَا شَبَابَةُ، حَدَّثَنَا وَرْقَاءُ بْنُ عُمَرَ، عَنْ عَمْرِو بْنِ دِينَارٍ، عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: " يَجِيءُ الْمَقْتُولُ بِالْقَاتِلِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ نَاصِيَتُهُ وَرَأْسُهُ بِيَدِهِ وَأَوْدَاجُهُ تَشْخَبُ دَمًا، يَقُولُ: يَا رَبِّ هَذَا قَتَلَنِي حَتَّى يُدْنِيَهُ مِنَ الْعَرْشِ "، قَالَ: فَذَكَرُوا لِابْنِ عَبَّاسٍ التَّوْبَةَ فَتَلَا هَذِهِ الْآيَةَ وَمَنْ يَقْتُلْ مُؤْمِنًا مُتَعَمِّدًا فَجَزَاؤُهُ جَهَنَّمُ، قَالَ: مَا نُسِخَتْ هَذِهِ الْآيَةُ وَلَا بُدِّلَتْ وَأَنَّى لَهُ التَّوْبَةُ،
Telah menceritakan kepada kami Al-Hasan bin Muhammad Az-Za’faraaniy : Telah menceritakan kepada kami Syabaabah : Telah menceritakan kepada kami Warqaa’ bin ‘Umar, dari ‘Amru bin Diinaar, dari Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda : “ "Akan datang orang yang dibunuh bersama orang yang membunuhnya pada hari kiamat dengan memegang jambul dan kepalanya dengan tangannya, dan urat lehernya mengucurkan darah. Ia berkata : ‘Wahai Rabb, orang ini telah membunuhku’. Hingga Allah menghinakannya dari 'Arsy". 'Amru berkata : Kemudian orang-orang menyebutkan taubat kepada Ibnu Abbas, kemudian ia (Ibnu ‘Abbaas) membaca ayat ini : ‘Dan barangsiapa yang membunuh seorang mukmin dengan sengaja, maka balasannya ialah Jahanam’ (QS. An-Nisaa’ : 93). Ia berkata : “Ayat tersebut tidak dihapus dan tidak pula diganti, dan bahwasannya taubatnya tidaklah diterima[1]” [Diriwayatkan oleh At-Tirmidziy 5/122-123 no. 3029; dishahihkan oleh Al-Albaaniy dalam Shahiih Sunan At-Tirmidziy 3/219-220].
Membunuh Jiwa Seorang Muslim Tanpa Hak Termasuk Perkara yang Membinasakan (Pelakunya)
حَدَّثَنِي هَارُونُ بْنُ سَعِيدٍ الأَيْلِيُّ، حَدَّثَنَا ابْنُ وَهْبٍ، قَالَ: حَدَّثَنِي سُلَيْمَانُ بْنُ بِلَالٍ، عَنْ ثَوْرِ بْنِ زَيْدٍ، عَنْ أَبِي الْغَيْثِ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، أَنّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: " اجْتَنِبُوا السَّبْعَ الْمُوبِقَاتِ "، قِيلَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، وَمَا هُنَّ؟ قَالَ: " الشِّرْكُ بِاللَّهِ، وَالسِّحْرُ، وَقَتْلُ النَّفْسِ الَّتِي حَرَّمَ اللَّهُ إِلَّا بِالْحَقِّ، وَأَكْلُ مَالِ الْيَتِيمِ، وَأَكْلُ الرِّبَا، وَالتَّوَلِّي يَوْمَ الزَّحْفِ، وَقَذْفُ الْمُحْصِنَاتِ الْغَافِلَاتِ الْمُؤْمِنَاتِ "
Telah menceritakan kepadaku Haaruun bin Sa’iid Al-Ailiy : Telah menceritakan kepada kami Ibnu Wahb, ia berkata : Telah menceritakan kepadaku Sulaimaan bin Bilaal, dari Tsaur bin Zaid, dari Abul-Ghaits, dari Abu Hurairah : Bahwasannya Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda : “Jauhilah oleh kalian tujuh perkara yang membinasakan”. Dikatakan : “Wahai Rasulullah, apakah itu ?”. Beliau menjawab : “Syirik kepada Allah, sihir, membunuh jiwa yang diharamkan Allah kecuali dengan hak, memakan harta anak yatim, memakan riba, melarikan diri dari peperangan, dan menuduh wanita mukminah baik-baik lagi suci telah berbuat zina” [Diriwayatkan oleh Muslim no. 89].
(Dosa) Membunuh Jiwa Seorang Muslim Tanpa Hak Seperti (Dosa) Membunuh Semua Umat Manusia[2]
Allah ta’ala berfirman :
مَنْ قَتَلَ نَفْسًا بِغَيْرِ نَفْسٍ أَوْ فَسَادٍ فِي الأرْضِ فَكَأَنَّمَا قَتَلَ النَّاسَ جَمِيعًا
Barangsiapa yang membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu (membunuh) orang lain, atau bukan karena membuat kerusakan di muka bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh manusia seluruhnya” [QS. Al-Maaidah : 32].
Pembunuh Bukan Termasuk Orang yang Berada di Atas Agama dan Petunjuk Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam
حَدَّثَنَا مُوسَى بْنُ إِسْمَاعِيلَ، حَدَّثَنَا جُوَيْرِيَةُ، عَنْ نَافِعٍ، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: " مَنْ حَمَلَ عَلَيْنَا السِّلَاحَ، فَلَيْسَ مِنَّا "
Telah menceritakan kepada kami Muusaa bin Ismaa’iil : Telah menceritakan kepada kami Juwairiyyah, dari Naafi’, dari ‘Abdullah bin ‘Umar radliyallaahu ‘anhuma, dari Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda : “Barangsiapa yang mengangkat senjatanya kepada kami, maka ia bukan termasuk golongan kami” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhaariy no. 6874].
An-Nawawiy rahimahullah berkata :
وَمَعْنَاهُ عِنْد أَهْل الْعِلْم أَنَّهُ لَيْسَ مِمَّنْ اِهْتَدَى بِهَدْيِنَا وَاقْتَدَى بِعِلْمِنَا وَعَمَلِنَا وَحُسْنِ طَرِيقَتِنَا
“Maknanya menurut para ulama adalah ia bukan termasuk orang yang mendapatkan petunjuk dengan petunjuk kami, serta (bukan termasuk orang yang) mengikuti ilmu, amal, dan baiknya jalan kami” [Syarh Shahiih Muslim, 1/109].
Jika mengangkat senjata saja sudah mendapatkan ancaman seperti itu, lantas bagaimana dengan orang yang benar-benar mengayunkannya sehingga darah kaum muslimin teralirkan ?.
Pembunuhan adalah Amalan yang Pertama Kali Dihisab di Hari Kiamat
حَدَّثَنَا عُمَرُ بْنُ حَفْصٍ، حَدَّثَنَا أَبِي، حَدَّثَنَا الْأَعْمَشُ، حَدَّثَنِي شَقِيقٌ، سَمِعْتُ عَبْدَ اللَّهِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: " أَوَّلُ مَا يُقْضَى بَيْنَ النَّاسِ بِالدِّمَاءِ "
Telah menceritakan kepada kami ‘Umar bin Hafsh : Telah menceritakan kepada kami ayahku : Telah menceritakan kepada kami Al-A’masy : Telah menceritakan kepadaku Syaqiiq : Aku mendengar ‘Abdullah (bin Mas’uud) radliyallaahu ‘anhuberkata : Telah bersabda Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam : “Sesuatu yang pertama kali diputuskan kelak (pada hari kiamat) di antara manusia adalah masalah darah” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhaariy no. 6533].
Lenyapnya Dunia dan Seisinya Lebih Ringan di Sisi Allah daripada Terbunuhnya Jiwa Seorang Muslim Tanpa Hak
أَخْبَرَنَا يَحْيَى بْنُ حَكِيمٍ الْبَصْرِيُّ، قَالَ: حَدَّثَنَا ابْنُ أَبِي عَدِيٍّ، عَنْ شُعْبَةَ، عَنْ يَعْلَى بْنِ عَطَاءٍ، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: " لَزَوَالُ الدُّنْيَا أَهْوَنُ عِنْدَ اللَّهِ مِنْ قَتْلِ رَجُلٍ مُسْلِمٍ "
Telah mengkhabarkan kepada kami Yahyaa bin Hakiim Al-Bashriy, ia berkata : Telah menceritakan kepada kami Ibnu Abi ‘Adiy, dari Syu’bah, dari Ya’laa bin ‘Athaa’, dari ayahnya, dari ‘Abdullah bin ‘Amru, dari Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda : “Lenyapnya/hancurnya dunia lebih rendah kedudukannya di sisi Allah daripada terbunuhnya seorang muslim” [Diriwayatkan oleh An-Nasaa’iy no. 3987; dishahihkan oleh Al-Albaaniy dalam Shahiih Sunan An-Nasaa’iy 3/74].
حَدَّثَنَا هِشَامُ بْنُ عَمَّارٍ، حَدَّثَنَا الْوَلِيدُ بْنُ مُسْلِمٍ، حَدَّثَنَا مَرْوَانُ بْنُ جَنَاحٍ، عَنْ أَبِي الْجَهْمِ الْجُوزَجَانِيِّ، عَنِ الْبَرَاءِ بْنِ عَازِبٍ، أَنّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: " لَزَوَالُ الدُّنْيَا أَهْوَنُ عَلَى اللَّهِ مِنْ قَتْلِ مُؤْمِنٍ بِغَيْرِ حَقٍّ "
Telah menceritakan kepada kami Hisyaam bin ‘Ammaar : Telah menceritakan kepada kami Al-Waliid bin Muslim : Telah menceritakan kepada kami Marwaan bin Janaah, dari Abul-Jahm Al-Juuzajaaniy, dari Al-Barraa’ bin ‘Aazib : Bahwasannya Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda : “Lenyapnya/hancurnya dunia lebih rendah kedudukannya di sisi Allah daripada terbunuhnya seorang muslim tanpa hak” [Diriwayatkan oleh Ibnu Maajah no. 2619; dishahihkan oleh Al-Albaaniy dalam Shahiih Sunan Ibni Maajah 2/339].
أَخْبَرَنَا أَبُو نَصْرِ بْنُ قَتَادَةَ، نا أَبُو عَمْرٍو إِسْمَاعِيلُ بْنُ نُجَيْدٍ السُّلَمِيُّ، نا جَعْفَرٌ بْنِ مُحَمَّدِ بْنِ سَوَادَةَ، نا الْحُسَيْنُ بْنُ مَنْصُورٍ، نا حَفْصُ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ، نا شِبْلُ بْنُ عَبَّادٍ، عَنِ ابْنِ أَبِي نَجِيحٍ، عَنْ مُجَاهِدٍ، عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ، قَال: لَمَّا نَظَرَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَى الْكَعْبَةَ، فَقَالَ: " مَرْحَبًا بِكِ مِنْ بَيْتٍ مَا أَعْظَمَكِ، وَأَعْظَمَ حُرْمَتَكِ، وَلَلْمُؤْمِنُ أَعْظَمُ عِنْدَ اللَّهِ حُرْمَةً مِنْكِ "
Telah mengkhabarkan kepada kami Abu Nashr bin Qataadah : Telah mengkhabarkan kepada kami Abu ‘Amru Ismaa’iil bin Nujaid As-Sulamiy : Telah mengkhabarkan kepada kami Ja’far bin Muhammad bin Sawaadah : Telah mengkhabarkan kepada kami Al-Husain bin Manshuur : Telah mengkhabarkan kepada kami Hafsh bin ‘Abdirrahmaan : Telah mengkhabarkan kepada kami Syibl bin ‘Abbaad, dari Ibnu Abi Najiih, dari Mujaahid, dari Ibnu ‘Abbaas, ia berkata : Ketika Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam memandang Ka’bah, beliau bersabda : “Selamat datang wahai Ka’bah, betapa agungnya engkau dan betapa agung kehormatanmu. Akan tetapi orang mukmin lebih agung di sisi Allah daripadamu” [Diriwayatkan oleh Al-Baihaqiy dalam Syu’abul-Iimaan, no. 4014; shahih].
Ibnul-‘Arabiy rahimahullah berkata :
ثبت النهي عن قتل البهيمة بغير حق والوعيد في ذلك فكيف بقتل الآدمي فكيف بالمسلم فكيف بالتقي الصالح
“Telah tetap adanya larangan membunuh binatang tanpa hak dan ancaman terhadap perbuatan tersebut. Maka bagaimana halnya dengan membunuh manusia ? bagaimana halnya dengan membunuh seorang muslim ? dan bagaimana halnya dengan membunuh seorang yang bertaqwa lagi shaalih ?” [Fathul-Baariy, 12/189].
Membunuh Jiwa Seorang Muslim Tanpa Hak Menyebabkan Pelakunya Terhalang Mengerjakan Amal Kebaikan
حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ الْمُعَلَّى الدِّمَشْقِيُّ، ثَنَا هِشَامُ بْنُ عَمَّارٍ، ثَنَا صَدَقَةُ بْنُ خَالِدٍ. ح وَحَدَّثَنَا إِبْرَاهِيمُ بْنُ دُحَيْمٍ الدِّمَشْقِيُّ، ثَنَا أَبِي، ثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ شُعَيْبِ بْنِ شَابُورَ، قَالا: ثَنَا خَالِدُ بْنُ دِهْقَانَ، ثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ أَبِي زَكَرِيَّا، عَنْ أُمِّ الدَّرْدَاءِ، عَنْ أَبِي الدَّرْدَاءِ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: " لا يَزَالُ الْمُؤْمِنُ مُعْنِقًا صَالِحًا مَا لَمْ يُصِبْ دَمًا حَرَامًا، فَإِذَا أَصَابَ دَمًا حَرَامًا بَلَّحَ "
Telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Al-Mu’allaa Ad-Dimasyqiy : Telah menceritakan kepada kami Hisyaam bin ‘Ammaar : Telah menceritakan kepada kami Shadaqah bin Khaalid (ح). Dan telah menceritakan kepada kami Ibraahiim bin Duhaim Ad-Dimasyqiy : telah menceritakan kepada kami ayahku : Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Syu’aib bin Syaabuur; mereka berdua berkata : Telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah bin Abi Zakariyyaa, dari Ummud-Dardaa’, dari Abud-Dardaa’, dari Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda : “Seorang mukmin senantiasa mendapatkan taufiq bersegera mengerjakan kebaikan selama belum menumpahkan darah yang haram. Apabila ia menumpahkan darah yang haram, maka ia terputus darinya [Diriwayatkan oleh Ath-Thabaraaniy dalam Asy-Syaamiyyiin 8/21-22; dishahihkan oleh Al-Albaaniy dalam Shahiih Al-Jaami’ Ash-Shaghiir no. 7693].
Wallaahu a’lam.
Semoga ada manfaatnya.
[anakmuslimtaat’ – perumahan ciomas permai, ciapus, ciomas, bogor – 01011435/05112013 – 09:30].




[1]      Inilah pendapat Ibnu ‘Abbaas radliyallaahu ‘anhumaa dan sebagian ulama salaf lain seperti : Zaid bin Tsaabit, Abu Hurairah, ‘Abdullah bin ‘Umar, Abu Salamah bin ‘Abdirrahmaan, ‘Ubaid bin ‘Umar, Al-Hasan, Qataadah, dan Adl-Dlahhaak bin Muzaahim sebagaimana dinukil oleh Ibnu Abi Haatim [Tafsiir Ibnu Katsiir, 2/378].
Adapun jumhur ulama salaf dan khalaf berpendapat pembunuh tersebut masih mempunyai kesempatan untuk diterima taubatnya oleh Allah ta’ala berdasarkan banyak nash, antara lain firman Allah ta’ala :
إِنَّ اللَّهَ لا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ
Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa mempersekutukan (sesuatu) dengan Dia, dan Dia mengampuni dosa yang selain dari syirik itu bagi siapa yang dikehendaki-Nya” [QS. An-Nisaa’ : 116].
قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَى أَنْفُسِهِمْ لا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ
Katakanlah: "Hai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” [QS. Az-Zumar : 53].
Juga tentang hadits pembunuh 100 jiwa.
Pendapat jumhur ulama inilah yang benar.
[2]      Sa’iid bin Manshuur rahimahullah berkata :
نا سُفْيَانُ، عَنِ الْعَلاءِ بْنِ عَبْدِ الْكَرِيمِ، عَنْ مُجَاهِدٍ، فِي قَوْلِهِ عَزَّ وَجَلَّ: مَنْ قَتَلَ نَفْسًا بِغَيْرِ نَفْسٍ أَوْ فَسَادٍ فِي الأَرْضِ فَكَأَنَّمَا قَتَلَ النَّاسَ جَمِيعًا، قَالَ: " فِي الإِثْمِ "، قَالَ: وَمَنْ أَحْيَاهَا، قَالَ: " مَنْ لَمْ يَقْتُلْ "
Telah mengkhabarkan kepada kami Sufyaan (Ats-Tsauriy), dari Al-‘Alaa’ bin ‘Abdil-Kariim, dari Mujaahid tentang firman-Nya ta’ala : ‘Barangsiapa yang membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu (membunuh) orang lain, atau bukan karena membuat kerusakan di muka bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh manusia seluruhnya” (QS. Al-Maaidah : 32); ia berkata : “Dalam hal dosa”. Ia melanjutkan : “Dan barangsiapa yang memelihara kehidupan seorang manusia’ (QS. Al-Maaidah : 32), yaitu : barangsiapa yang tidak membunuh” [As-Sunanno. 728; sanadnya shahih].

Bahaya Pembunuhan Jiwa Seorang Muslim Tanpa Hak Rating: 4.5 Diposkan Oleh: Unknown

 

Top