Tuduhan Negatif Kepada Islam dan Umatnya yang Dianiaya | Ilmu Islam

Rabu, 02 April 2014

Tuduhan Negatif Kepada Islam dan Umatnya yang Dianiaya


Jaringan TV kabel HBO Amerika Serikat (AS) menayangkan film dokumenter yang mengisahkan kehidupan umat Islam di AS. Film berjudul The Education of Muhammad Hussein ditayangkan pada Senin 7 Januari 2014 malam. Film tersebut menceritakan kehidupan Mohammad Hussein (10 tahun) seorang siswa Muslim di kota Detroit yang menerima perlakuan diskriminasi oleh teman-teman di sekolahnya. ”Mereka mengatakan Muslim itu sebagaimana Mohammed Hussein, seorang siswa di Al-Ikhlas Training Academy kotor dan teroris,” tulis Detroit Free Press. Hussain menceritakan perasaan yang ditanggungnya selama ini. Ia getir dengan perlakuan terhadap komunitas Islam. Sejumlah orang di Detroit tak menerima kehadiran Muslim. Dalam adegan lain orang-orang itu mengatakan ” Mereka dapat meledakkan barang-barang kami , tapi kami tidak dapat membakar kitab suci mereka?”

Bagian dari umat islam yang paling merasakan perlakuan buruk karena keyakinan mereka adalah kaum wanita. Mungkin ini disebabkan oleh beberapa hal : (1) Wanita memang kaum yang dianggap lemah dan tidak akan mampu melakukan pembalasan ketika mendapat perlakuan tidak menyenangkan (2) Wanita Muslim mudah dilihat ciri-cirinya yang membedakan mereka dengan wanita non-Muslim karena memakai jilbab dan burqa. Pada tahun 2006 - 2009 setidaknya ini dialami enam perempuan Muslim Jack Straw, dari Kejaksaan Tinggi, mengatakan bahwa ia meminta perempuan Muslim yang mengunjungi konstituensi di Blackburn untuk membuka jilbab mereka. Dalam satu insiden seorang perempuan Muslim berusia 20-an ditarik lepas jilbabnya dan dilemparkan ke tanah oleh seorang pria kulit putih sementara ia berada di stasiun Tube Canning Town di timur London. Serangan terjadi pada hari yang sama ketika seorang cadar perempuan Muslim dilepaskan dengan paksa dari wajahnya oleh seorang pria kulit putih yang mengucapkan kata-kata bermuatan pelecehan rasial saat ia menunggu di bus-stop di distrik Liverpool's Toxteth. Bahkan wanita muslimah ada yang sampai terbunuh ketika Marwa el-Sarbini, seorang keturunan Mesir yang ditikam berkali-kali oleh seorang kafir yang telah melakukan pelecehan sebelumnya dengan menarik lepas jilbab yang dikenakannya. Berita-berita ini -sekalipun sering dimuat - hilang bak angin lalu, diganti dan ditutupi dengan lontaran tuduhan yang menyebutkan Islam adalah agama kekerasan.


Soal tuduhan bahwa Islam mengajarkan perang dan kebencian kepada orang-orang non-Muslim sudah bukan merupakan barang baru di dunia maya. Tuduhan dilontarkan baik dengan kata-kata yang kasar dan terang-terangan maupun secara halus, menyindir dan terkesan 'menasehati'. Ayat-ayat Al-Qur'an dan hadits yang dipakai sudah sangat populer : 'bunuhlah orang kafir dimanapun kamu menemukan mereka', atau hadits Rasulullah 'Aku diperintah untuk memerangi manusia sehingga bersaksi bahwa tiada ilah kecuali Allah dan Muhammad adalah utusan Allah'. Pada kesempatan lain, beberapa non-Muslim juga melakukan 'jualan obat' dengan mengatakan :"Agama kami mengajarkan kita harus menghormati semua manusia, tidak peduli datang dari ajaran manapun, tidak seperti 'agama lain' yang menyuruh pemeluknya untuk membenci dan membeda-bedakan manusia, mengancam yang tidak mengikuti keyakinan mereka dengan neraka..".

Anehnya segala ucapan ini - khususnya di Indonesia - disampaikan oleh non-Muslim, mereka pada saat yang sama menjalani hidup damai dan tenteram ditengah-tengah umat Islam yang melingkupi, karena disini umat islam memang mayoritas. Aktifitas non-Muslim berjalan seperti biasa, mereka punya tetangga Muslim dikiri kanan yang sama sekali tidak mengganggu, berinteraksi dengan tukang sayur, pelayan toko, juru parkir sampai kepada manager bank dan kantor pelayanan publik lainnya. Bahkan dalam menjalankan ibadahpun jarang ditemukan gangguan berarti, tidak seperti yang dialami oleh umat Islam di wilayah mayoritas non-Muslim. Umat Hindu di Bali sampai-sampai punya 'wewenang' untuk menutup bandara Ngurah Rai dihari perayaan Nyepi, sehingga ada guyonan bandara Ngurah Rai adalah satu-satunya airport di dunia yang memiliki agama karena ikut menjalankan ritual Nyepi, bandara yang lain atheis semua. Ketika waktunya Natal, banyak supermarket yang mewajibkan petugas mereka untuk mengenakan pakaian Sinterklas padahal mereka adalah Muslim.

Ditengah-tengah kenyamanan tersebut, sebagian non-Muslim tetap saja menyuarakan tuduhan ;"Islam adalah agama perang dan kekerasan..".

Pikiran logis kita sebenarnya bisa melihat, seandainya memang umat Islam seperti yang dituduhkan, maka dipastikan tidak akan ada para pemeluk agama lain di Indonesia karena mereka sudah 'dihabisi' dari dulunya. Bahkan fakta memperlihatkan kalau kekhalifahan Islam yang berkuasa ratusan tahun di wilayah yang luas di Timur Tengah masih menyisakan banyak pengikut agama lain yang masih eksis sampai sekarang. Di Mesir ada banyak pemeluk Kristen Koptik, di Yordania dan Irak, sebagian rakyatnya bukan pemeluk Islam. Di Indonesia anda saksikan sendiri, bukan hanya masih eksis, kaum non-Muslim bahkan menikmati hidup yang nyaman san penuh kebebasan, baik dalam aktifitas sehari-hari maupun kegiatan keagamaan mereka. Lalu apakah mau dikatakan kalau umat Islam 'tidak menjalankan aturan agama mereka dengan benar' karena tidak 'membantai' pemeluk agama lain sesuai kutipan ayat Al-Qur'an dan hadits..?.

Kesalahan persepsi ini barangkali muncul karena umat Islam memang diajarkan oleh agama mereka untuk tidak hidup dengan kemunafikan dan kepura-puraan dalam kaitan menyebarkan keyakinan, tidak ada usaha untuk mempesonakan orang lain dengan cara membungkus kebusukan dan kedengkian hati dibalik sikap dan kata-kata santun dan toleran. Mereka diajarkan untuk menyampaikan risalah Allah, menyatakan yang benar adalah benar dan yang salah adalah salah. Al-Qur'an menyatakan :

"Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka. Kamu lihat mereka ruku' dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya, tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud." (Al-Fath: 29)

Kata 'keras' pada ayat tersebut berasal dari 'asyiddaau' yang memiliki akar kata 'syin-dal-dal' yang memiliki banyak makna : to bind tightly, strap, strengthen firmly, run, establish, make firm, hard, strong, be advanced (day), be intense. - kalau dalam perbendaharaan bahasa Indonesianya : keras, tegas, kokoh, teguh. 

Sikap ini memang memunculkan 'rasa tidak enak' bagi orang-orang kafir, dan Al-Qur'an juga menjelaskan dalam lanjutan ayat tersebut dengan mengibaratkan mereka sebagai tanaman : "yang mengeluarkan tunasnya maka tunas itu menjadikan tanaman itu kuat lalu menjadi besarlah dia dan tegak lurus di atas pokoknya; tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir."

Ketika seorang Muslim berkata ;"Menyembah Isa Almasih sebagai Tuhan adalah perbuatan kafir..", atau "yang disembah selain Allah adalah berhala, dan menyembah berhala artinya menyembah syaitan yang durhaka". perkataan tersebut bukan berarti kami telah mencampuri urusan orang lain, karena itu memang ada dalam kitab suci Al-Qur'an yang harus disampaikan kepada orang banyak, agar pada suatu saat nanti dihari penghakiman, umat Islam tidak bisa lagi disalahkan karena tidak menyampaikan ayat-ayat Allah yang diwajibkan Allah untuk disampaikan.

Mungkin karena keterus-terangan inilah yang menjadi penyebab munculnya kecurigaan bagi sementara non-Muslim , yang beranggapan Islam adalah agama yang menyebarkan kekerasan, perang dan pemaksaan kepada pemeluk agama lain. Celakanya tuduhan ini dilontarkan sambil terus-menerus menggebuki para pemeluk Islam yang mereka temui di jalanan, secara fisik, secara verbal, melalui cara yang kasar dan terang-terangan, melalui perkataan halus dan seolah-olah penuh kebijaksanaan..


Tuduhan Negatif Kepada Islam dan Umatnya yang Dianiaya Rating: 4.5 Diposkan Oleh: Unknown

 

Top