‘Aliy adalah Sebaik-Baik Manusia, dan Barangsiapa yang Enggan Mengakuinya, Maka Kafir | Ilmu Islam

Minggu, 16 September 2012

‘Aliy adalah Sebaik-Baik Manusia, dan Barangsiapa yang Enggan Mengakuinya, Maka Kafir


Tanya : Shahihkah hadits bahwa Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda : ‘Aliy adalah sebaik-baik manusia. Barangsiapa yang enggan, maka kafir’ ?.
Jawab : Tidak shahih dari Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam tentang hal tersebut. Diriwayatkan oleh Khaitsamah bin Sulaimaan sebagai berikut :
حَدَّثَنَا إِبْرَاهِيمُ بْنُ سُلَيْمَانَ الْبُهْمِيُّ بِالْكُوفَةِ قَالَ: حَدَّثَنَا الْحُسَيْنُ بْنُ سَعِيدٍ النَّخَعِيُّ ابْنُ عَمِّ شَرِيكٍ، عَنْ إِسْحَاقَ، عَنْ أَبِي وَائِلٍ شَقِيقِ ابْنِ سَلَمَةَ، عَنْ حُذَيْفَةَ بْنِ الْيَمَانِ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: عَلِيٌّ خَيْرُ الْبَشَرِ، مَنْ أَبَى فَقَدْ كَفَرَ "
Telah menceritakan kepada kami Ibraahiim bin Sulaimaan Al-Buhmiy di Kuufah, ia berkata : Telah menceritakan kepada kami Al-Husain bin Sa’iid An-Nakha’iy anak paman Syariik, dari Ishaaq, dari Abu Waail Syaqiiq bin Salamah, dari Hudzaifah bin Al-Yamaan, ia berkata : Telah bersabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam : “’Aliy adalah sebaik-baik manusia. Barangsiapa yang enggan (mengakuinya), maka kafir” [Min Hadiits Khaitsamah bin Sulaimaan hal. 200-201].
Darinya, Ibnu ‘Asaakir meriwayatkan dalam At-Taariikh 42/372.
Hadits ini sangat lemah dikarenakan dua ‘illat :
a.     Ibraahiim bin Sulaimaan.
Ibnu Hibbaan memasukkannya dalam Ats-Tsiqaat (8/86 & 88), akan tetapi yang benar ia seorang yang sangat lemah. Ad-Daaruquthniy melemahkannya, dan di lain riwayat mengatakan : ‘matruuk’ [Mausu’ah Aqwaal Ad-Daaruquthniy, hal. 37-38 no. 65]. Adz-Dzahabiy mengisyaratkan bahwa ia telah memalsukan satu hadits [Miizaanul-I’tidaal, 1/37 no. 107]. Termasuk rijaal Syi’ah [Lisaanul-Miizaan, 1/294-295].
b.     Penyebutan ‘Al-Husain bin Sa’iid An-Nakha’iy anak paman Syariik, dari Ishaaq’ di atas adalah keliru. Yang benar adalah : ‘Al-Hurr bin Sa’iid An-Nakha’iy, dari Syariik bin ‘Abdillah, dari Abu Ishaaq’. Al-Hurr bin Sa’iid adalah seorang yang majhuul. Syariik bin ‘Abdillah adalah seorang yang shaduuq, namun banyak keliru. Berubah hapalannya saat menjabat hakim di Kuufah [At-Taqriib, hal. 436 no. 2802].
Ibnu ‘Asaakir (42/372) membawakan mutaba’ah bagi Ibraahiim bin Sulaimaan, yaitu Ahmad bin Al-‘Abbaas Al-Muqri’. Selain dari kemajhulan Al-Hurr, sanad ini juga (sangat) lemah dengan sebab kemajhulan ‘Aliy bin Al-Hasan bin Syaqiir dan kedla’ifan Ahmad bin Muhammad bin ‘Imraan Al-Jundiy. Al-Jundiy seorang Syi’ah yang didla’ifkan riwayatnya. Al-Azhariy berkata : “Tidak ada apa-apanya” [Taariikh Baghdaad 6/244-245 no. 2734 dan Lisaanul-Miizaan1/639 no. 789].
Al-Khathiib mengatakan yang mahfuudh dalam riwayat ini hanyalah merupakan perkataan Syariik saja [Taariikh Dimasyq, 42/372].
Diriwayatkan pula secara marfuu’ dari shahabat  yang lain, yaitu :
1.     Jaabir bin ‘Abdillah radliyallaahu ‘anhu.
Diriwayatkan oleh Al-Khathiib dalam Taariikh Baghdaad(8/446), Al-Jurqaaniy dalam Al-Abaathil 1/313 no. 160 Ibnu ‘Asaakir dalam Taariikh Dimasyq (42/372 & 373), dan Ibnul-Jauziy dalam Al-Maudluu’aat 1/349; semuanya dari jalan Al-Hasan bin Abi Thaalib, ia berkata : Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ishaaq bin Muhammad Al-Qathii’iy : Telah menceritakan kepadaku Abu Muhammad Al-‘Alawiy Al-Hasan bin Muhammad bin Yahyaa bin Al-Hasan bin Ja’far bin ‘Ubaidillah bin Al-Husain bin ‘Aliy bin Al-Husain bin ‘Aliy bin Abi Thaalib pemilik kitab An-Nasab, ia berkata : Telah menceritakan kepada kami Ishaaq bin Ibraahiim Ash-Shan’aaniy, ia berkata : Telah menceritakan kepada kami ‘Abdurrazzaaq bin Hammaam : Telah mengkhabarkan kepada  kami Sufyaan Ats-Tsauriy, dari Muhammad bin Al-Munkadir, dari Jaabir, ia berkata : Telah bersabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam : “..... (al-hadiits)....”.
Sanad riwayat ini sangat lemah dengan sebab Abu Muhammad Al-‘Alawiy Al-Hasan bin Muhammad bin Yahyaa, seorang yang matruk dan tertuduh memalsukan hadits [Taariikh Baghdaad 8/446 dan Lisaanul-Miizaan3/116-118 no. 2394].
Al-Khathiib berkata : “Hadits ini munkar. Aku tidak mengetahuinya ada yang meriwayatkan selain Al-‘Alawiy dengan sanad ini, dan itu tidak tsaabit”. Hal tersebut disepakati oleh Al-Jurqaaniy dalam Al-Abaathil 1/314.
Akan tetapi Ibnul-Jauziy dalam Al-Maudluu’aat (1/349) membawakan jalan lain : Telah memberitakan kepada kami Ibraahiim bin Diinaar Al-Faqiih, ia berkata : Telah memberitakan kepada kami Abu ‘Aliy Muhammad bin Sa’iid bin Nabhaan, ia berkata : Telah memberitakan kepada kami Abu ‘Aliy Al-Hasan bin Al-Husain bin Duumaa, ia berkata : Telah memberitakan kepada kami Ahmad bin Nashr Adz-Dzaaari’, ia berkata : Telah menceritakan kepada kami Shadaqah bin Muusaa, ia berkata : Telah menceritakan kepada kami ayahku, ia berkata : Telah menceritakan kepada kami Yahyaa bin Ya’laa, ia berkata : Telah menceritakan kepada kami Al-A’masy, dari Abu Sufyaan, dari Jaabir, ia berkata : Telah bersabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam : “....(al-hadits)....”.
Sanad riwayat ini palsu, terutama disebabkan oleh Ahmad bin Nashr Adz-Dzaaari’, seorang pendusta. Ad-Daaruquthniy berkata : “Dajjaal” [Taariikh Baghdaad 6/412 no. 2902 dan Lisaanul-Miizaan, 1/684-685 no. 882].
2.     ‘Aliy bin Abi Thaalib radliyallaahu ‘anhu.
Diriwayatkan oleh Ibnu ‘Adiy dalam Al-Kaamil 1/277, Al-Khathiib dalam Taariikh Baghdaad 4/314, Al-Jurqaaniy dalam Al-Abaathil1/312 no. 159, Ibnu ‘Asaakir dalam At-Taariikh 42/371-372, Ibnul-Jauziy dalam Al-Maudluu’aat 1/348, dengan lafadh :
مَنْ لَمْ يَقُلْ عَلِيَّ خَيْرُ النَّاسِ فَقَدْ كَفَرَ
Barangsiapa yang tidak mengatakan ‘Aliy adalah sebaik-baik manusia, sungguh ia telah kafir”.
Sanad riwayat ini sangat lemah dengan sebab Muhammad bin Katsiir Al-Kuufiy, seorang Syi’ah, munkarul-hadiits [lihat : Al-Abaathil, 1/312-313].
3.     Abu Sa’iid Al-Khudriy radliyallaahu ‘anhu.
Diriwayatkan oleh Ibnu ‘Adiy dalam Al-Kaamil 1/277, Ibnu Hibbaan dalam Al-Majruuhiin 1/140, Ibnu ‘Asaakir dalam Taariikh Dimasyq 42/371, dan Ibnul-Jauziy dalam Al-Maudluu’aat 1/348-349 dengan lafadh :
عَلِيّ خَيْرُ الْبَرِيَّةِ
’Aliy adalah sebaik-baik manusia”.
Riwayat ini sangat lemah, terutama dengan sebab Ahmad bin Saalim Abu Samurah, seorang pendusta yang meriwayatkan hadits-hadits munkar[lihat : Al-Majruuhiin 1/140, Al-Kaamil 1/277, dan  Tadzkiratul-Huffaadh no. 528, dan Lisaanul-Miizaan1/464-465 no. 521]. Selain itu juga terdapat ‘Athiyyah Al-‘Aufiy, seorang Syi’ah, mudallis, dan lemah menurut jumhur ulama [Tahriirut-Taqriib 3/20 no. 4616, Tahdziibul-Kamaal, 20/145-149 no. 3956, dan Al-Jaami’ fil-Jarh wat-Ta’diil 2/209 no. 2937].
4.     ‘Abdullah bin Mas’uud radliyallaahu ‘anhu.
Diriwayatkan oleh Ibnul-Jauziy dalam Al-Maudluu’aat 1/347-348 dan As-Suyuuthiy dalam Al-Laali’ul-Mashnuu’ah 1/327-328 : Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin ‘Aliy bin ‘Abdillah Abu Ahmad Al-Jurjaaniy – imam orang-orang Syi’ah di jamannya - : Telah menceritakan kepada kami ‘Aliy bin Muusaa Al-Qummiy : Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Syujaa’ Ats-Tsaljiy : Telah menceritakan kepada kami Hafsh bin ‘Umar Al-Kuufiy : Telah menceritakan kepada kami Abu Mu’aawiyyah, dari Al-A’masy, dari Abu Waail, dari Ibnu Mas’uud, dari Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam, dari Jibriil : Bahwasannya ia berkata :
يَا مُحَمَّدُ، عَلِيٌّ خَيْرُ الْبَشَرِ، مَنْ أَبَى فَقَدْ كَفَرَ
Wahai Muhammad, ‘Aliy adalah sebaik-baik manusia. Barangsiapa yang enggan (mengakuinya), maka ia telah kafir”.
Sanad riwayat ini palsu. Ibnul-Jauziy rahimahullah berkata : “Adapun hadits Ibnu Mas’uud, padanya terdapat Hafsh bin ‘Umar, tidak ada apa-apanya. Dan juga Muhamad bin Syujaa’ Ats-Tsaljiy – dimana telah lewat di awal kitab (penjelasan tentangnya) bahwa ia seorang pendusta....” [Al-Maudluu’aat, 1/349].
Wallaahu a’lam.
Semoga ada manfaatnya.
[anakmuslimtaat’ – ciomas permai, 16092012].

‘Aliy adalah Sebaik-Baik Manusia, dan Barangsiapa yang Enggan Mengakuinya, Maka Kafir Rating: 4.5 Diposkan Oleh: Unknown

 

Top